Without Restraint

 


#𝟎𝟎𝟐 ¦ 𝐖𝐢𝐭𝐡𝐨𝐮𝐭 𝐑𝐞𝐬𝐭𝐫𝐚𝐢𝐧𝐭.

"Sometimes what we seek is actually something we've kept all this time."

"Kadang rasanya gua pengen meluk lo dan minta lo buat istirahat. gua pengen lo berlindung sama gua."

Madeon memandang Hesa dengan pandangan yang sedikit kabur, dahinya mengerenyit pening. Apa yang barusan ia dengar dari mulut teman hidupnya 4 tahun kebelakang sungguh membuat kepala dan hatinya tambah berdebam.

Sebuah rasa yang terasa salah dan benar dalam waktu yang bersamaan menyerang sendi-sendinya. Mata Hesa seperti memburu jiwanya saat itu. Menusuk dalam-dalam, tidak memberinya ruang untuk kabur.

Lalu sedetik kemudian ia kembali pada bumi. Madeon berdecak kesal dan menyambar botol dari tangan Hesa.

"udah, minum lo kebanyakan. gausah ngebadut."

Hesa bergeser mendekat, diraihnya pergelangan Madeon. Matanya masih berusaha memburu milik Madeon. Yang di tatap berusaha memerangi, ingin bersembunyi dari semburat merah yang ada di wajahnya.

Memalukan, pikirnya. Kenapa dari semua orang yang ada di bumi. Harus dia yang membuatnya merasa seperti itu?

"Lo tau sendiri itu sedikit buat gua. Gua serius."

"Ya lalu? Lo berharap respon apa dari gua? Mau jadi pacar kolong gua juga? Setelah semua yang gua ceritain ke lo?"

"Ngga, ga gitu. Setiap gua liat lo, gua selalu liat diri gua yang lain, seseorang yang pengen gua lindungin. Yang dulu gagal buat gua lindungin."

Madeon tercekat, tidak dapat berkata atau memproses banyak. Entah karena minuman yang membius sarafnya malam itu, atau ucapan dari mulut sahabatnya sendiri. Dia benar-benar tidak siap.

Giliran pandangan Hesa yang mengabur, kamar gelap dengan purnama yang mengintip dari jendela menjadi satu-satunya penerangan untuk melihat wajah Madeon. Hening membawanya mendekat pada tubuh hangat Madeon.

Keduanya benar-benar kalut dengan banyak persoalan malam itu. Sesak akan perasaan tak bertuan yang menyinggahi rongga penghidupannya. Dua raga yang letih dan ingin pulang. Siapa yang tau idealisme semata bisa mengikat dua insan paling tidak disangka untuk menjadi satu?

Hesa meraih pinggang kawannya yang sedikit lebih pendek darinya itu. Membawanya mendekat untuk sebuah pelukan. Darah berdesir cepat dan malam berhenti sampai disitu untuk keduanya. Deru nafas yang terdengar seperti mengisyaratkan sebuah kalimat selamat datang. Akhirnya kau dirumah.

Madeon mengangkat lengannya perlahan untuk mengeratkan pelukan itu. Pelukan yang terasa seperti penawar bagi semua perjalanan dan lukanya selama ini. Matanya menatap keluar jendela.

Benar, selama ini dia sudah hidup seperti angin. Berhembus kemanapun takdir membawanya. Namun siapa sangka malam itu ia harus jatuh di dalam pelukan orang yang telah ia kenal lama sebagai seseorang yang lain?

Orang lain?

Tidak juga, sebenarnya jika dipikir lagi. Ia telah membagi semuanya dengan Hesa. Semua kebiasaannya. Luka-lukanya. Hal yang paling ia takutkan. Hal yang membuat darahnya berdesir penuh harapan. Hal yang dia inginkan untuk dunia kelak. Semua tersimpan dengan rapih dalam kantong memori Hesa.

Seperti, setengah dari Madeon telah ada pada Hesa, untuk waktu yang lama. Tanpa ia sadari. Seperti, tidak ada alasan lain baginya untuk menghindar dan kabur.

Lalu Madeon memejamkan matanya, menyerahkan diri sepenuhnya pada Hesa. Memutuskan untuk melihat kemana takdir berhembus untuk membawanya kali ini.

"Madeon, I love you"

"Hes-"

"Lo tau, perasaan itu hak setiap manusia tanpa campur tangan orang lain. Kalo gua cinta sama lo, itu hak gua dan gua gak punya hak untuk memaksakan hal yang sama, karena perasaan lo, itu hak lo."

Skakmat.

Setelahnya hening. Namun Madeon tau betul. Hesa pun tau. Keduanya telah jatuh, dan tidak ada yang bisa menolong mereka lagi. Madeon juga mencintai Hesa. Sangat. Sebagai kawan, kawan hidup, atau apalah panggilan yang ingin diberikan orang lain.

Mereka tidak perduli lagi.

Karena akhirnya mereka sudah di rumah.

- - -

Jakarta, 6 Juli 2020
© 2021 aneettoo, Pedestrian Archives.

Comments

Popular Posts