堕天使 — Fallen Angel
"𝑰𝒏 𝒂 𝒎𝒊𝒅𝒔𝒕 𝒐𝒇 𝒂 𝒏𝒊𝒈𝒉𝒕𝒇𝒂𝒍𝒍, 𝑰 𝒔𝒂𝒘 𝒂 𝒑𝒂𝒊𝒓 𝒐𝒇 𝒆𝒕𝒉𝒆𝒓𝒆𝒂𝒍 𝒘𝒊𝒏𝒈𝒔. 𝑨𝒏𝒅 𝒔𝒖𝒅𝒅𝒆𝒏𝒍𝒚, 𝒔𝒂𝒏𝒊𝒕𝒚 𝒘𝒂𝒔𝒏'𝒕 𝒂 𝒕𝒉𝒊𝒏𝒈 𝒕𝒉𝒂𝒕 𝑰 𝒃𝒆𝒍𝒊𝒆𝒗𝒆 𝒆𝒙𝒊𝒔𝒕𝒆𝒅. 𝑭𝒐𝒓 𝒂 𝒎𝒐𝒓𝒕𝒂𝒍 𝒍𝒊𝒌𝒆 𝒎𝒆, 𝒍𝒐𝒏𝒈𝒊𝒏𝒈 𝒕𝒐 𝒉𝒐𝒍𝒅 𝒔𝒖𝒄𝒉 𝒑𝒖𝒓𝒆 𝒄𝒓𝒆𝒂𝒕𝒖𝒓𝒆 𝒊𝒏 𝒎𝒚 𝒂𝒓𝒎𝒔. 𝑨𝒏𝒅 𝒎𝒊𝒏𝒆 𝒐𝒏𝒍𝒚."
- - - - -
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Diantara jutaan dari jenis kami. Tujuh diantaranya merupakan gugusan tertinggi. Wakil dari semua wakil. Pemilik sayap yang berkilau paling indah di jagat raya. Dengan tugas paling mulia.
Bukan aku.
Si tanpa nama, pemilik salah satu dari ribuan sayap biasa, dengan hanya satu
tugas sepanjang sejarahku, yang sekarang telah gagal. Karena hatiku, tertambat
di bumi.
Aku yang
kini berdiri di hadapan ketujuh malaikat paling mulia. Tertunduk dalam.
Ketahuilah, aku tahu aku lalai, dan aku pantas untuk diusir dari langit.
Tapi hari
ini, untuk alasan yang tidak aku ketahui. Keberanian mengalir deras dalam
ragaku. Cukup untuk membuat permohonan agar..
Daripada
ke perut neraka, atau dibuang kedalam kehampaan. Aku, ingin kedua sayapku
menghilang. Dan bisa menapaki bumi.
Menjemput
kembali hatiku, yang diambil dirinya. Seorang manusia, yang tidak abadi. Yang
bersikeras berpikir sayapku lah yang paling indah. Padahal belum sekalipun
matanya menjamah Garden of Eden. Langit. Kayangan. Sebut saja nama apapun yang
kalian, manusia berikan untuk tempat tinggalku.
Meja
penghakiman. Hari ini ketujuh malaikat paling mulia telah berkumpul. Haruskah
aku takut? Atau tersanjung?
Alasan
mereka berkumpul adalah aku. Si tanpa nama.
"Turun
kebawah sana dan meninggalkan kekekalanmu hanya untuk makhluk pembawa
kehancuran? Apakah akan setimpal dengan anugerah yang akan kau buang?",
Michael. Pemimpin dari para Archangel, mempertanyakan pilihanku.
"Pesan
yang kuterima, dia telah melakukan kesalahan. Menyebrangi mimpi seorang manusia
saat melakukan tugasnya menangkal mimpi buruk.", mataku menuju pada
Gabriel. Penyampai pesan.
Ya, aku
hanya bertemu orang itu lewat mimpinya. Dari ratusan juta mimpi, hanya miliknya
yang begitu tulus. Mengharapkan keberlangsungan bumi, jiwanya yang kuat dan
indah. Menarikku untuk menyebrang dan begitulah aku selalu hadir dalam bunga
tidurnya.
Apa? Aku
tahu mimpi hanyalah mimpi. Tapi aku sangat yakin, dia sungguhan menungguku. Dia
akan mengenaliku. Jangan berfikir sebaliknya. Takdir. Yang harus terjadi, akan
terjadi.
"Jegudiel,
bagaimana menurutmu? Hukuman apa yang akan diberikan untuk pelanggaran seperti
itu?", lanjut Gabriel yang bertanya pada Jegudiel, penasihat dan pengadil.
"Tapi
menyebrang mimpi tidak sesederhana itu! Tanpa keajaiban, hal seperti itu nyaris
tidak mungkin!", sergah Uriel, simbol kebijaksanaan dan petunjuk. Melirik
Barachiel, yang bertanggung jawab atas mukjizat dan keajaiban.
Barachiel
mengalihkan pandangan, bersiul pelan. Yang mana membuat Michael memijat
pelipisnya.
"Jegudiel?",
oper Michael pada sang penasehat. Mataku tertuju pada Jegudiel yang sedaritadi
tidak berekspresi. Menunggu apa yang harus dia beritahu. Buku jariku mengeras.
Aku sungguh tidak ingin berakhir di kehampaan.
"..
Kontak dengan makhluk tidak kekal. Setidaknya setimpal dengan mengembara
dikehampaan.", pernyataan Jegudiel membuatku membatu. Seketika meja
penghakiman sunyi. Sayapku ingin lepas rasanya.
"Bukankah
itu agak kejam? Lagipula jari Barachiel ikut andil dalam hal ini. Dan lagi,
turun kebumi harusnya sudah cukup menjadi hukuman.", Selaphiel, pengantar
doa dan harapan. Menatap Jegudiel sangsi dari seberang meja.
"Dan.
Mereka jatuh cinta." tambah Selaphiel. Mataku membelalak. Diujung sana
kutangkap Barachiel tersenyum tipis.
Hah?
"Manusia
itu. Setiap membuka matanya, dia selalu berharap dan berharap untuk mimpinya
menjadi nyata.", ujar Selaphiel yang membuat mataku memanas.
//
'Namaku, Jeffenyl.'
Mataku
terpejam, suara itu terngiang. Rasa didalam ragaku semakin menggebu. Ku mohon,
izinkan aku turun ke bumi.
"Harapan
itu ada karena dia terus mengunjungi manusia itu.", Gabriel menampik apa
yang disampaikan Selaphiel.
"Tapi
jatuh cinta artinya mereka dianugrahkan Tuhan. Apakah itu bisa dibantah?",
Barachiel berdiri dari singgasananya.
"Tapi
benarkah kamu ingin menjadi makhluk ringkih seperti mereka? Kau akan sangat
mudah terluka dan selalu putus asa membutuhkan pertolongan?" tanya
Raphael, penyembuh dari segala luka. Aku terdiam, tapi aku yakin aku-
"Cukup!
Jegudiel, adakah yang merubah kesimpulanmu?", Michael lagi-lagi menagih
Jegudiel. Empunya menghela nafas.
"Sudah
diputuskan. Dia harus melepas sepasang sayapnya, menghapus seluruh memori
tentang Garden of Eden, dan diturunkan ke bumi.", ujar Jegudiel. Akhirnya.
Senyumku merekah dan air suci turun dari mataku.
Tapi
tunggu, jika memoriku dihapus, lantas bagaimana aku menemukan manusia itu?
"Baiklah,
dengan ini kami kehendaki kau..", lalu Michael berhenti setengah jalan,
dia melirikku.
//'kalau
begitu kau adalah, Espy. Meskipun hanya sekelebat. Aku akan mengingatmu.'
"Espy."
Aku tersenyum pada Michael. Tidak masalah. Aku yakin dia akan menemukanku.
Jeffenyl. Nama milikknya yang akan menemukanku.
"Dengan
ini kami kehendaki kau, Espy. Untuk melepas sayapmu dan turun ke bumi.",
Michael menyelesaikan titahnya. Lalu Barachiel mengayunkan tangkai-tangkai
bunganya padaku.
Garden of
Eden selalu bercahaya. Namun, cahaya lain membawaku tinggi. Aku memejamkan
mata, selagi rasa sakit merambati sayapku. Sepertinya aku tau apa yang akan
terjadi selanjutnya.
Selamat
tinggal sayapku.
Sebelum
kesadaranku hilang, kulihat tiga malaikat mendekat. Ah. Temanku.
"Selamat
jalan, aku memberkatimu, temuilah manusia itu.", Chamuel, pembibit cinta
tak bersyarat.
"Akupun
memberkatimu, didalam semua hubunganmu nanti.", Haniel, Pemersatu segala
hubungan. Dan..
"Kupastikan hidupmu bergelimang kebahagiaan.", ujar Jophiel. Penyebar kebahagiaan.
Lalu semua
menghilang.
- - - - -
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Aku belum
selesai terkejut karena menemukan sesosok perempuan ini terkapar di ladang
dandelion bukitku. Perempuan yang aku bersumpah, sudah pernah melihatnya disuatu
tempat. Tapi dimana gerangan?
Dahiku
sedang berkerut saat kurasa ada pergerakan darinya.
"Hey,
nona. Kau sudah sadar?", tanyaku segera saat melihat perempuan ini
bergerak di lenganku. Wajahnya tertimpa sinar matahari, aku terpana untuk
sejenak. Apakah benar perempuan ini dari sekitaran sini? Apakah dia benar dari
bumi? Sungguh sangat indah. Tidak. Indah pun tidak cukup.
Wajahnya
terlihat kesakitan, jadi kuhalangi sinar matahari dengan tanganku. Tangan
perempuan itu meremas kuat rambutnya.
Perlahan
kulihat matanya terbuka, dia mendapatiku terpaku. Aku terpaku karena saat mata
kami bertemu. Aku merasa telah menemukan sesuatu.
Yang
selama ini selalu kutunggu.
"apa
aku baru saja terjatuh?", gumamnya sangat pelan. Aku tersadar dari
lamunanku.
"Nona?
Kau baik-baik saja?", tanyaku kembali. Tatapannya menelusuri wajahku, lalu
kembali pada kedua manikku. Menguncinya erat.
Angin
bertiup melewati helai rambutnya, kami terdiam. Aku tidak tau apa yang
sebenernya terjadi, atau apakah ada kata-kata yang tepat di dunia ini untuk
menyebutnya.
Lebih
hebat dari sebuah penemuan, momen kebenaran yang kurasa saat ini. Sebuah ikatan
misterius, lebih dalam dari rahasia dunia.
Tanpa ada
lagi suara dari kesadaranku, aku meraih jemarinya. Seperti, itulah hal paling
benar yang harus kulakukan.
Masih
dengan matanya yang menyelami mataku, gravitasi sekarang berasal dari dirinya.
Seperti hal yang mutlak, bibirnya menghampiri milikku.
Waktu
sungguhan berhenti untukku. Sebuah gerbang telah terbuka. Tanpa kejelasan yang
masuk di logikaku.
Kenapa
pula aku bisa melupakannya? Dia yang selalu kutunggu.
Setelah
bibir kami terpisah, segala kebenaran datang menghampiriku. Membanjiri dadaku
dengan perasaan hangat.
Air dari
mataku menetes di parasnya yang cantik. Aku menemukanmu.
"Espy."
Lalu matanya
membentuk bulan sabit paling indah yang pernah kulihat.
Jakarta, 8 April 2019
© 2021 aneettoo, Pedestrian Archives.



Comments
Post a Comment