Hydrangea

 


#𝟎𝟎𝟔 ¦ 𝐇𝐲𝐝𝐫𝐚𝐧𝐠𝐞𝐚.

"Mainly about a boy who might have been an olympus god and a girl he loved, dearly."

Perlahan kelopaknya terkelupas dan dihempas angin ke permukaan meja. Terhitung seminggu buket itu menjadi sebuah kado tak bertuan. Biru dan lembut, warnanya persis seperti langit yang dia ingat di hari pertama kali namanya disebut oleh sepasang bibir itu.

Radolph kembali tersenyum, mau habis berapa abad pun hati manusia akan tetap menjadi misteri pemiliknya. Yang terkadang juga misterinya terlalu merepotkan, bahkan untuk pemiliknya sendiri. Misteri yang mungkin bisa menjelaskan kenapa dia ada di posisinya sekarang. Kenapa hatinya dengan mudah diakusisi oleh teduhnya mata itu, meleleh dan luluh lanta dibuat oleh senyumnya dalam sekejap. Kenapa mengetahui kabar seseorang bisa membuat kopi-gayonya semanis nira, dan membuat kancingnya susah untuk masuk ke lubang yang benar. Gila, orang itu membuat dunianya menggila. Dan dunianya butuh orang itu untuk menghentikan semua kegilaan ini. Atau begitu yang dia pikir. Sekarang dia menginginkan orang itu, lebih dari Hades yang ingin mengurung Persephone dari musim gugur ke musim panas.

Tapi dia bukan dewa Olympus, dan bukan juga psikopat yang mengurung gadis yang dia cintai dalam sebuah sangkar. Itu menambah satu lagi misteri kenapa orang bisa mencintai namun untuk memiliki adalah hal lain yang lebih rumit. Bukan, bukan dia yang kekurangan pesona atau gadis itu sudah memiliki Herculesnya sendiri. Tapi kadang ada sebuah batasan, walau setipis benang, walau rasanya sangat dekat batas itu akan selalu ada.

Batas yang menjadi alasan kenapa sudah lewat seminggu namun buket Hydrangea biru itu malah mengering di sudut kamarnya. Tanpa pemilik. Persetan dengan hari kasih sayang, hari apapun itu, jika hanya Radolph memiliki nyali untuk melangkah, akan dia lakukan.

Akan dia katakan dengan lantang bahwa dunianya milik gadis itu, bahwa dia akan melakukan apapun untuk mengisi ruang di sela jemarinya, menghangatkan bagian lain kasurnya yang dingin, dan memeluknya sepanjang musim. Walau di tempatnya musim hanya ada dua.

Jika hanya dia cukup punya nyali untuk berjudi dengan nasib. Mempertaruhkan apa yang dia punya sekarang, untuk sesuatu yang tidak pasti jawabannya.

Mempertaruhkan melihat senyumannya dari dekat atau terpaksa menjadi orang asing yang mengetahui terlalu banyak tentang satu sama lain. Pikiran itu menakutinya. Namun suatu hari, jika memandangnya saja tidak lagi cukup, jika melihatnya jatuh untuk laki-laki lain tidak lah ia sanggupi untuk lihat, dia akan menyebranginya. Batas itu. Maupun batas-batas lain di dunia. Hydrangea itu suatu saat akan bertuan.

------

"𝘏𝘺𝘥𝘳𝘢𝘯𝘨𝘦𝘢 𝘣𝘪𝘳𝘶? 𝘐𝘵𝘶 𝘢𝘳𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘮𝘢𝘢𝘧-.."

"𝘖𝘩? 𝘉𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘺𝘢? 𝘏𝘦𝘩𝘦.."

𝑾𝒆𝒍𝒍, 𝑰 𝒎𝒊𝒈𝒉𝒕 𝒐𝒘𝒆 𝒚𝒐𝒖 𝒂𝒏 𝒂𝒑𝒐𝒍𝒐𝒈𝒚. 𝑰'𝒎 𝒔𝒐𝒓𝒓𝒚 𝒇𝒐𝒓 𝒉𝒂𝒗𝒊𝒏𝒈 𝒕𝒉𝒊𝒔 𝒖𝒏𝒃𝒆𝒂𝒓𝒂𝒃𝒍𝒆 𝒇𝒆𝒆𝒍𝒊𝒏𝒈𝒔 𝒇𝒐𝒓 𝒚𝒐𝒖. 𝑨𝒏𝒅 𝑰'𝒎 𝒔𝒐𝒓𝒓𝒚 𝑰 𝒄𝒐𝒖𝒍𝒅𝒏'𝒕 𝒕𝒆𝒍𝒍 𝒚𝒐𝒖 𝒚𝒆𝒕.

-----

To the girl who makes him feels like an Olympus God, you're loved. Dearly.
To the boy who might be an Olympus God someday, have courage.

 

Jakarta, 20 Februari 2020
© 2021 aneettoo, Pedestrian Archives.

Comments

Popular Posts