Melancholy


#𝟎𝟎𝟏 ¦ 𝐌𝐞𝐥𝐚𝐧𝐜𝐡𝐨𝐥𝐲.


“talk about the center of our world, where we live in, and what will happen if you don’t belong.”

 


𝟸𝟺 𝙽𝚘𝚟𝚎𝚖𝚋𝚎𝚛

 

"𝘊𝘶𝘢𝘤𝘢 𝘣𝘶𝘳𝘶𝘬 𝘥𝘪𝘱𝘳𝘦𝘥𝘪𝘬𝘴𝘪 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘭𝘢𝘯𝘫𝘶𝘵 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢 𝟥 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯. 𝘋𝘪𝘢𝘯𝘫𝘶𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘦𝘯𝘥𝘢𝘳𝘢 𝘫𝘢𝘶𝘩 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘰𝘵𝘦𝘯𝘴𝘪 𝘣𝘢𝘥𝘢𝘪."

 

tlit.

 

"Jangan menyalakan tv jika tidak kau tonton, Shan."

 

Mataku menatap datar sosok tinggi besar yang barusan mematikan tv dari balik kanvasku. Bajunya rapih seperti sebelum-sebelumnya. Sudah pasti, dia akan menemui wanita itu lagi.

 

"Kau, tidak liat berita cuaca?"

 

Aku meletakkan pensil yang kugunakan sedari tadi. Charlie menatapku dengan senyuman idiotnya dan berjalan kearahku. Kau sangat senang bertemu dengannya, ya.

 

"Yah, aku sudah berjanji menemaninya menyusun jurnal.

Aku tidak akan pulang malam."

 

Tangan besarnya mengacak rambutku yang kutepis dengan cepat. Aku berdecak kesal dan menatapnya tidak suka. Iya, dia tidak akan pulang malam.

 

Dia akan pulang esok pagi.

 

"Tampaknya kau akan menghabiskan ulang tahunmu dengan badai, kak."

 

Aku bangkit dari tempat dudukku dan meraih remote. Kembali menyalakan tv, tidak mengindahkan Charlie yang kini sudah menjinjing kunci mobilnya. Siap untuk pergi.

 

"Mh'm, sepertinya akan begitu. Lagipula aku tidak keberatan merayakannya hanya dengan kalian berdua. Matikan jika tidak kau tonton, Shan."

 

"Aku menyalakannya bukan untuk ditonton, tapi untuk mengusir kesepian."

 

Charlie berdiri tidak nyaman di ambang pintu, ingin menjawab namun tertahan. Pandangannya berubah iba. Cih, aku benci itu. Pandangan yang semua orang berikan setelah ayah dan ibu tidak lagi ada.

 

"Hey, aku akan pulang cepat."

 

Lalu sosoknya menghilang dibalik pintu. Meninggalkanku dengan suara tv.

 

"Kau tidak perlu."

 

- - -

 

𝟷𝟹 𝙵𝚎𝚋𝚛𝚞𝚊𝚛𝚒

"ya, sedikit merapat. semuanya senyum. 1, 2, 3."

 

"Shan, kakakmu tidak datang?", seseorang menghampiriku dan menegur dengan hati-hati. Aku meliriknya sebentar, tidak menghiraukannya. Kembali tercenung, melihat lurus keramaian orang-orang yang lulus bersamaku. Orang itu kemudian pergi, seperti yang seharusnya dia lakukan sedari tadi.

 

Dimana Charlie.

 

Seorang wanita berjongkok di hadapanku. Menyibak helai rambutku kebelakang. Aku menarik diri, terkejut dengan penjajahan tiba-tiba pada jarak personalku. Wanita itu tersenyum.

 

"Hey adik Charlie, kau tidak mirip dengannya", ujarnya dengan riang lalu menaruh sebuah buket bunga di pangkuanku.

 

"Selamat atas kelulusanmu, Shan. Aku Kristine."

 

Mataku menatapnya lama. Tidak yakin harus merespon seperti apa. Ini pertama kalinya seseorang melanggar batas personalku tanpa ragu. Sebelum menyimpulkan apapun, Charlie berlarian kearahku dan Kristine.

 

"Maaf ada yang harus kuselesaikan terlebih dahulu. Selamat atas kelulusanmu, Shan.", aku menatapnya dan Kristine bergantian.

 

Oh, dia yang membuatmu terlambat.

 

"Tidak apa-apa."

 

- - -

Kristine muncul seperti halaman baru, semua yang kulakukan bersama Charlie, kini turut disertai Kristine di setiap bagiannya. Sudah lama sejak ada orang lain hidup diantaraku dan Charlie. Selain Ibu dan Ayah, tidak ada yang mengerti kami berdua.

Rasanya aneh, namun tidak sepenuhnya buruk.

Ada sesuatu tentang Kristine yang tidak bisa aku jelaskan.

- - -

𝟸𝟺 𝚂𝚎𝚙𝚝𝚎𝚖𝚋𝚎𝚛

"Kau gila? Mau menjual rumah ini? Ini satu-satunya yang ditinggalkan orangtuaku, sialan!"

"Orangtuamu, orangtuaku juga Shan. Rendahkan suaramu."

"Apa pekerjaanmu tidak cukup? Kalau begitu aku akan bekerja juga! Aku tidak akan masuk perguruan tinggi."

"Shan. Aku berjanji pada Orangtuamu untuk mengirimmu ke sekolah seni. Tepat sebelum mereka meninggal."

Kosong. Pikiranku kosong dan aku berlari keluar.

Sesak rasanya merasa marah namun tidak memiliki alasan untuk merasa seperti itu. Aku duduk termenung, buku jari memutih, putus asa menemukan jalan keluar dari situasi ini. Bertengkar dengan Charlie adalah hal yang sulit.

"Hey, tidak apa. Kau boleh merasa marah jika memang itu yang kau rasakan."

Wanita itu muncul entah dari mana. Memegang tanganku yang dingin karena sedari tadi duduk diluar dengan cuaca musim gugur.

"Charlie melakukannya dengan berat hati juga. Tapi dia ingin yang terbaik untuk semua orang. Hidup juga akan terus berjalan, tidak apa-apa melepaskan hal dari masalalu."

"Melepaskan bukan berarti kehilangan, Shan."

Kristine tersenyum. Matanya menembus sesuatu yang ada di mataku. Sesuatu yang selama ini orang lain tak pernah tau. Untuk kedua kalinya, dia melewati jarak personalku.

Dan aku tidak membencinya.

- - -

𝟸𝟺 𝙾𝚔𝚝𝚘𝚋𝚎𝚛

Berhasil. Aku berhasil mendapatkan tiket emasku menuju perguruan tinggi. Dengan penghargaan ini, Charlie tidak harus menjual rumah dan ia tetap bisa menepati janjinya. Ini akan menjadi kejutan terbaik sepanjang tahun. Mungkin aku harus beritahu Kristine juga.

"Kak? Aku pulang-"

"Charlie- ahh. Jangan seperti ini. Shan bisa pulang kapan saja. Mnh!"

"Jangan khawatir. Dia tidak akan pulang sebelum kujemput. Kristine."

"Hnghh-"

Aku naik bus hari ini.

Aku naik bus dan ingin memberi kejutan.

Sial haha, jadi aku yang terkejut. Bagaimana aku bisa lupa.

Bagian paling penting. Charlie adalah milik Kristine. Dan Kristine adalah milik Charlie. Sedangkan Shan, tidak memiliki tempat lagi.

- - -

Sejak hari itu. Aku kembali menarik diri.

Kupikir dengan menjauhi Kristine, keadaan akan kembali seperti semula. Tapi aku salah. Kemana Kristine pergi, ke sana Charlie akan pergi juga.

- - -

𝟸𝟽 𝙽𝚘𝚟𝚎𝚖𝚋𝚎𝚛

"KRISTINE! TIDAK. TIDAK."

Punggungnya bergerak naik turun, bersama dengan tangisnya yang histeris. Sudah 3 jam dia bersinggah di pusara Kristine.

Aku tidak menyangka dia akan sesedih ini. Dia bahkan tidak menangis sekeras ini di pemakaman ibu dan ayah.

"Oh Tuhan. Bagaimana bisa. Apa kau tidak keterlaluan, Kristine. Di hari ulang tahunku."

Keningnya kembali menyentuh lantai. Charlie, kau benar-benar berantakan.

"Seharusnya aku tidak mendengarkanmu hari itu. Seharusnya kau tidak perlu pergi untuk hadiahku. Seharusnya aku tidak lahir hari ini."

Bicaranya mulai tidak jelas. Charlie benar-benar hancur. Beberapa orang mencoba menenangkannya lagi. Entah sudah berapa kali.

Akhirnya mereka menyerah dan menyuntiknya dengan obat bius.

Charlie akhirnya hening. Aku membawanya kembali ke rumah. Setidaknya ini yang terbaik kak. Kembali hanya ada kau dan aku. Tidak ada yang harus memilikimu. Atau memiliki Kristine.

- - -

𝟸𝟼 𝙽𝚘𝚟𝚎𝚖𝚋𝚎𝚛

"Halo?"

"Ya? Halo, Shan. Ada apa?"

"Ayo kita cari kado ulang tahun untuk Charlie"



Jakarta, 28 Mei 2020
© 2021 aneettoo, Pedestrian Archives.

Comments

Popular Posts